Subah – Momentum bersejarah kembali terukir dalam lembaran sejarah Pramuka di pangkalan Rufaidah Ass’ad. Setelah melewati serangkaian ujian fisik, mental, dan intelektual yang panjang, sejumlah anggota Pramuka Penegak akhirnya resmi menyandang tingkatan Penegak Laksana. Prosesi pelantikan yang berlangsung di bawah naungan Ambalan Rufaidah Assa’ad ini dilaksanakan dengan penuh khidmat pada Jum’at 13 Februari 2026 bertempat di halaman SMK Bhakti Kencana Subah.
Perjalanan menuju tingkatan Laksana bukanlah perkara mudah. Sebelum sampai di titik pelantikan, para calon Penegak Laksana ini harus menyelesaikan poin-poin Syarat Kecakapan Umum (SKU) yang jauh lebih menantang dibandingkan tingkatan Bantara. Mereka dituntut untuk memiliki kemandirian dalam berorganisasi, kemampuan memimpin rekan sejawat, hingga melakukan pengabdian nyata di lingkungan masyarakat sebagai wujud implementasi poin-poin Dasa Darma.
Upacara pelantikan dimulai tepat pukul 15.10 WIB dengan suasana yang syahdu diiringi adzan ashar dan disiplin tinggi. Di bawah langit cerah, para peserta didik berbaris rapi membentuk formasi perlambang kesatuan tekad. Kehadiran para pembina, Orang tua siswa, serta perwakilan Dewan Kerja menjadi saksi bisu atas transformasi para penegak ini dari sosok yang sebelumnya hanya “mengetahui” menjadi sosok yang kini siap “melaksanakan.”
Salah satu momen yang paling menggetarkan jiwa adalah saat pengulangan janji Trisatya. Di hadapan Sang Merah Putih dan panji Ambalan Rufaidah Asa’ad, para peserta dengan suara lantang namun bergetar menyatakan kesanggupannya untuk menjalankan kewajiban terhadap Tuhan, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan mengamalkan Pancasila. Pengucapan janji ini bukan sekadar seremoni, melainkan sumpah setia untuk menjadi garda terdepan dalam kebaikan.
Nama Rufaidah Assa’ad yang melekat pada ambalan ini membawa semangat tersendiri dalam prosesi pelantikan. Mengambil teladan dari Rufaidah Al-Aslamiyah (yang juga dikenal sebagai Rufaidah binti Sa’ad), perawat pertama dalam sejarah Islam, para penegak yang baru dilantik diingatkan untuk memiliki jiwa kemanusiaan yang tinggi. Pembina upacara menekankan bahwa seorang Penegak Laksana harus mampu menjadi “obat” dan pemberi solusi bagi permasalahan yang ada di sekitarnya, sesuai dengan semangat pengabdian Rufaidah.
Dalam amanatnya, Pembina Pramuka Widi Novianto, S.Pd., M,Pd. menyampaikan pesan mendalam mengenai arti kata “Laksana”. Beliau menegaskan bahwa Laksana berarti berbuat dan bekerja.
“Tanda tingkatan yang kini ada di pundak kalian bukan sekadar hiasan untuk gagah-gagahan. Itu adalah beban tanggung jawab. Penegak Laksana adalah motor penggerak ambalan; jika kalian berhenti bergerak, maka roda organisasi ini pun akan tersendat,” tegas beliau dengan penuh wibawa.
Sebagai penutup rangkaian acara, seluruh peserta pelantikan menjalani tradisi adat ambalan yang sudah turun-temurun dilakukan. Siraman air tujuh rupa atau menjadi simbol penyucian niat sebelum mereka benar-benar terjun mengabdi. Suasana haru pecah saat para orang tua atau pembina menyematkan Tanda Kecakapan Umum (TKU) Laksana yang baru, menandai babak baru dedikasi mereka dalam gerakan kepanduan.









